yudi hermawanto

Mengikat ilmu dengan menulis. Menjadikannya lekat sepanjang hayat...

Selengkapnya

HILANGNYA PENDIDIKAN KARAKTER DITANGAN POLITIKUS

Entah, karena merasa luar biasa, perilaku elit politik negeri ini begitu memuakkan, khususnya bagi mereka yang menjadi "politician artist", karena semakin "gaduh" konon semakin terkenal karena diliput stasiun tivi. Jangan tanya tentang keilmuan yang dipakai untuk menjelaskan kegaduhan yang mereka timbulkan. Yang penting beda aja..

Menjadi tidak patut manakala para politisi itu begitu semangat untuk menghinakan sesamanya yang berbeda. Hinaan itu tak lagi dibungkus dalam sebua narasi yang "lembut", melainkan sedemikian vulgar disemburkan.

Tak lekang ingatan kita saat seorang profesor melontarkan hinaan dengan memanggil lawan yang bersebarangan dengannya dengan nama hewan.

Pun tak pupus kata - kata tausiyah lembut berubah menjadi forum menghujad, saat ada seseorang yang tidak mendukung ide mereka, lalu di cap kafir.

Duh, Gusti.... Bagaimana mereka bisa sekasar itu? Dimanakah pesan - pesan guru mereka saat mereka berada di bangku sekolah agar saling menghormati, menyayangi, mengingatkan dan bekerja dengan sesamanya.

Seandainya guru - guru mereka di alam kubur itu mendengarnya... Ahh...

Muatan karakter yang diintegrasikan dalam setiap mata pelajaran menjadi sebuah idealisme belaka.

Kehalusan bertutur kata yang seharusnya dilantunkan hanya berisi hujatan dan tuduhan. Maka sebagai sebuah reaksi, pihak yang satunya pun akan menampilkan narasi yang sama.

Fitnah tak lagi lebih kejam dari sebuah pembunuhan manakala itu disampaikan berulang - ulang sehingga menjadi sebuah kebenaran, sehingga bangkai saudaranya yang terlarang untuk dimakan menjadi santapan lezat saat berkotbah.

Menumbuhkan hal baik yang konon merupakan ciri khas bangsa Indonesia melalui Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) kedalam sistem pendidikan nasional. Kebijakan PPK ini terintegrasi dalam Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) berupa perubahan cara berpikir, bersikap, dan bertindak menjadi lebih baik. Dimana nilai-nilai utamanya adalah religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, integritas, yang tiap pagi dituturkan oleh siswa dalam salam PPK. Menjadi lenyap tak berbekas. Ngomong apapun sah bahkan jika itu harus menyakiti.

Sedih, saat mengetahui bahwa kerusakan lisan itu dilakukan oleh tokoh - tokoh senior, yang pada mereka keteladanan itu harusnya kita peroleh.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Sayangnya mereka numpang atas nama agama. Atas nama agama, mereka berjihad sampai titik darah penghabisan. Mereka menyasar pada masyarakat bawah (gress root) yang mudah diprovokasi. perang digital mereka lakukan, layaknya seperti yang dilakukan pemberontakan oleh ISIS dan sejenisnya. Sungguh! insya Allah mereka ngerti agama, cuman mereka mengolah olah bukan pada tempatnya. Sebagai alat buat mereka. inilah politik. Dalam sejarah Islam, kenapa seorang penghafal Alquran bisa membunuh calon penghuni surga, sayyidina Ali karramallahu wajhah? Sang pembunuh termakan isu politik atas nama agama. Ya Rabb.., selamat masyarakat Indonesia dari perpecahan!

17 May
Balas

Sayang juga, mereka juga enggan menjadi pembaca gurusiana, yang padanya sebuah pencerahan sering ditawarkan dengan kadar keilmuan yang jelas.

17 May
Balas

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali